Setapak Cerita Awal Pandu Sidang MPL PGI 2018, Palopo

Disambut cuaca yang cukup sering berubah, Makassar-Sulawesi Selatan menjadi titik awal saya dan sekitar 17 orang pemuda dari berbagai daerah dan dari berbagai macam latar belakang gereja berkumpul bersama pada tanggal 21 Januari 2018.

Sebagian dari kami belum saling mengenal tetapi dipersatukan oleh 8 jam perjalanan malam menggunakan bus menuju ke Palopo yang menjadi lokasi sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL PGI) 2018 yang pada tahun ini sebagai tuan rumah adalah Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) yang bertempat di Palopo-Sulawesi Selatan.

Dengan rasa kantuk yang mengelilingi kami, dan rasa asing, kami mencoba membaur. Terlihat jelas keramahan terlepas perkenalan yang belum utuh dibangun. Walau demikian pastilah ada secercah rasa kuatir, entah dalam berinteraksi ataupun melakukan tugas. Saya yakin kegelisahan serupa terbersit di beberapa orang rekan saya terutama yang memang perdana mencicipi pengalaman sebagai pandu.

Seperti nasihat “jangan menilai buku dari sampulnya”, penting rasanya bagi kita untuk tidak berprasangka, tidak berekspektasi agar kita terus terbuka terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

Bertempat di sekretariat panitia, kami pandu yang berangkat bersama dari Makassar akhirnya bertemu dengan rekan pandu dari Palopo. Mereka menunjukkan keramahan yang tiba-tiba membuat saya berani membuat kesimpulan singkat dalam hati: “ini akan menyenangkan!”

Aktifitas tanggal 22 itu bisa dibilang sederhana. Dari jam 3 subuh hingga jam 7 pagi, kami berkenalan, menikmati sarapan, dan melakukan pembagian tempat tinggal. Sorenya kami berkumpul di GPIL Jemaat Lagaligo yang memang dipilih sebagai titik lokasi kegiatan pembekalan pandu sidang MPL PGI 2018.

Banyak yang kami lakukan di bawah naungan atap gedung gereja tersebut, tapi satu hal yang bisa saya pastikan: menit-menit asing sudah berubah menjadi hari-hari keakraban.
Dan tanpa menunggu lama, keakraban tersebut segera cair menjadi sebuah jalinan persaudaraan yang tanpa memandang batas lagi.

Kesimpulan saya “ini akan menyenangkan” ternyata tidak salah. Adakalanya buku memang dapat ditebak dari sampulnya. Sebab dari sampul penuh senyum dan keramahan, seringnya ada sebuah isi pengalaman yang membahagiakan. 3 hari pertama yang membuat kami sebagai pandu optimis: beberapa hari selanjutnya mungkin lebih berat, tapi pasti menyenangkan!

Kami bukan lagi hanya sekedar mengenal, bukan hanya sebagai teman, bukan hanya sebagai sahabat, tetapi sekarang kami adalah keluarga baru, keluarga yang akan selalu membantu, bekerja sama, saling memperhatikan, saling menguatkan; Ya, itulah kami Pandu Sidang MPL PGI 2018

 

Penulis: Claudya Tio Elleosa

Editor: Anggara Rudianto Arpani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *