Pandu Sidang MPL PGI 2017

Pembekalan Pandu Sidang MPL PGI 2017 yang berlangsung dari tanggal 20 hingga 22 Januari 2017 dibagi dalam dua kali pembekalan, pertama dilangsungkan di Wisma Kasih Sinode GKJ dan kedua pada hari terakhir pembekalan berada di Agrowisata Salib Putih Salatiga yang juga sebagai tempat dari berlangsungnya Sidang MPL PGI 2017. Jumlah total Pandu Sidang berjumlah 48 orang yang merupakan dari hasil seleksi dari Biro Pemuda dan Remaja PGI dan juga utusan dari sinode-sinode lokal yang berada di Jawa Tengah.

Program Pandu Sidang merupakan program utama BPR PGI sebagai kaderisasi pemuda gereja dalam beroikumene. Selain itu, program ini juga mempersiapkan Pandu Sidang untuk membantu berjalannya Sidang MPL PGI.

Pada setiap sesi pembekalan ini menekankan pada kekompakkan antara pandu sidang dan juga saling mengenal satu dengan yang lainnya, terlihat dalam sesi pertemuan satu dengan satu yang diharapkan pada sesi ini adalah peserta pandu sidang dapat lebih mengenal pandu lainnya yang beda sinode dan asal dari dirinya.

Peserta pandu sidang juga dibagi menjadi 5 kelompok yang dibagi acak dalam penghitungan nomor pada hari pertama, pembagian kelompok ini juga untuk melatih kerja sama antara anggota kelompok dan untuk memeriahkan acara pembekalan ini juga setiap kelompok diberikan kesempatan untuk membuat yel-yel kelompok yang dinyanyikan setiap awal sesi pembekalan.

Hari terakhir pembekalan di Wisma Kasih berfokus pada apa saja yang perlu disiapkan saat Sidang MPL dan selama menjadi Pandu Sidang. Sesi ini dipandung langsung oleh Ketua BPR, Abdiel Fortunatus Tanias. Pada pembukaan sesi ini, Abdiel memberikan kesempatan kepada peserta pandu yang sebelumnya pernah menjadi pandu sidang dalam Sidang MPL untuk memberikan kesan-kesannya selama menjadi Pandu Sidang MPL.

Setelah itu Ketua BPR Abdiel memberikan penjelasan apa yang dimaksud dengan Pandu Sidang dan bagaimana cara kerja selama menjadi pandu sidang, tak luput juga pembagian tugas bagi peserta pandu sidang untuk bertugas dalam bagian mana saat Sidang MPL 2017 nanti dan pemilihan koordinator umum dan bagian Pandu Sidang. Terpilih Richard menjadi Koordinator Umum Pandu Sidang, Jhon Tumangger sebagai Koordinator Pandu Dalam, dan Pak Suyoto sebagai Koordinator Pandu Luar.

Di malam terakhirnya merupakan sesi malam keakraban yang dimana setiap kelompok diberikan tugas untuk menyalurkan kreatifitasnya dalam mengisi acara tersebut yang diberikan tema “Kebhinekaan”. Pada malam keakraban ini setiap kelompok memberikan suatu yang spesial dengan penampilannya, salah satu yang didapat dari malam keakraban ini ialah mengenai betapa keragaman dapat menjadi kekuatan bila bersama. Kebhinekaan ini pun yang terajut pada pembekalan pandu sidang ini, bermacam latar belakang yang ada dari bermacam sinode, bermacam suku, dan bermacam daerah namun menjadi satu kesatuan dalam melayani.

Di Agrowisata Salib Putih, peserta pandu sidang diberikan outbound yang mematangkan kekompakan, komunikasi, kesigapan, dan kepekaan dalam melakukan pelayanan selama menjadi pandu sidang. Setelah melakukan kegiatan outbound, peserta pandu sidang melakukan pengenalan area Sidang MPL PGI dari tata letak ruang sidang hingga area mana saja yang dinantinya akan digunakan selama berlangsungnya Sidang MPL PGI. Pada hari pertama di Agrowisata Salib Putih juga peserta Pandu Sidang sudah mulai melakukan pekerjaannya dalam proses registrasi peserta sidang hingga memandu peserta ke ruangannya masing-masing.

Malam pembekalan terakhir, Ketum dan Sekum PGI memberikan kata sambutan sekaligus pesan terhadap Pandu Sidang dalam menjalankan tugasnya selama Sidang MPL PGI 2017. Dalam kata sambutannya Sekum PGI, Pak Gomar Gultom mengatakan “Pentingnya untuk hidup dalam gerakan oikumene dan memperbanyak relasi selagi masih muda. Menjadi Pandu Sidang bukan hanya berfokus dalam sidang, tetapi juga untuk dapat mengenal para pemimpin gereja.”

Akhir dalam bagian rangkaian pembekalan ini ialah pengutusan dalam melakukan pelayanan pada Sidang MPL PGI ini. Pada rangkaian pengutusan ini, bagaimana diajarkan bagaimana melakukan sebuah pelayanan dengan kerendahan hati dan ketulusan sekaligus melakukan pelayanan dengan sepenuh hati.

Apa saja yang menjadi kesan dan pesan para Pandu Sidang MPL PGI 2017?

“Bersama tidak selamanya membuat bahagia, tetapi berpisah kita sangat merasa kehilangan. Setiap kita mungkin merasa kecewa dan sakit hati, namun cinta yang lebih dalam membuat hati kita kembali bersemangat.” – Suyoto perwakilan dari Gereja Isa Almasih.

“Disini saya menjadi pandu, saya merasakan sesuatu yang baru. Disini saya merasa mempunyai keluarga yang selalu mengerti, yang selalu menemani, mereka selalu ada dalam suka, duka, susah, bahkan sampai lelah mereka selalu ada.” – Agus Heri Kurniawan perwakilan dari GITJ.

“Bagaimana saya dididik dan diperlengkapi untuk menjadi seorang leader atau kader oikoumene. Ibu Ketua Umum mengajarkan saya bagaimana rendah hati untuk hari-hari kedepan. Sungguh perbedaan itu indah, keanekaragaman yang mempersatukan.” – Dewi Laoli perwakilan dari JKI.

“Hanya seminggu waktu kita disini, tetapi terlalu banyak kenangan yang tidak mudah dilupakan.” – Jhon Tumangger perwakilan dari GKPPD.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *